Di Amsterdam: Mengulik Sejarah Ganja, Brownies, dan Pertemuan Unik

28 Agustus 2024 jadi hari yang nggak terlupakan buatku. Berawal dari perjalanan seru selama 6 jam naik kereta dan lanjut 2,5 jam naik bus, akhirnya tiba di Amsterdam sekitar jam 10 malam. Capek sih, tapi antusiasme untuk menjelajah kota ini bikin rasa lelah itu hilang begitu aja. Setelah check-in di sebuah hotel kecil, aku langsung istirahat untuk siap-siap petualangan esok hari.

Pagi berikutnya, sekitar jam 9, aku mulai menjelajah Amsterdam. Naik metro, aku menuju pusat kota yang ramai. Hal pertama yang bikin saya terkaget-kaget adalah banyaknya toko yang menjual ganja (Emang norak). Nggak cuma ganja siap pakai, tapi juga bibit, alat-alat pendukung, sampai aksesoris lainnya. Di sepanjang jalan, aroma ganja bercampur dengan semangat kebebasan khas Amsterdam.

Salah satu spot yang pertama di kunjungi adalah Red District, kawasan yang terkenal dengan kehidupan malamnya. Tapi bukan itu yang bikin menarik. Di sini ada sebuah tempat yang nggak boleh dilewatkan: Museum Ganja!!!! Langsung aja aku masuk ke sana, penasaran banget pengen tahu lebih banyak soal sejarah dan budaya ganja dari berbagai belahan dunia. Dan ternyata, Indonesia disebut-sebut beberapa kali di museum ini!

Salah satu cerita yang menarik perhatian saya adalah kisah seorang pria Jerman bernama Georg Eberhard Rumphius. Dia adalah seorang botaniker yang bergabung dengan VOC hanya untuk datang ke Indonesia dan meneliti tanaman-tanaman di sana. Yang bikin lebih seru, dia juga menemukan beberapa jenis ganja di Indonesia, seperti di Sumatra, Jawa, Bali, dan Ambon. Wah, aku baru tahu kalau nenek moyang kita mungkin udah kenal ganja sejak dulu, entah buat pengobatan atau campuran makanan.

Keluar dari museum, aku masih nggak bisa berhenti mikirin hal itu. Lalu, saat jalan-jalan lagi, terlihat toko kecil yang menjual makanan berbahan dasar ganja. Tanpa berpikir panjang, aku memutuskan untuk mencoba salah satu yang paling populer: brownies ganja. Penasaran banget, rasanya kayak gimana sih?

Pesanlah satu dan duduk di kafe kecil itu sambil menikmati suasana Amsterdam yang santai. Brownies-nya sendiri kelihatan biasa aja, tapi rasanya legit, manis dengan sedikit aftertaste yang khas dari ganja. Saat suapan pertama, nggak ada yang terlalu beda. Tapi setelah beberapa waktu, perlahan-lahan, efeknya mulai terasa. Tubuh yang imut ini mulai merasa lebih ringan, dan pikiran terasa lebih santai dan tenang. Ini pengalaman baru yang seru banget! Ganja di Amsterdam memang udah jadi bagian dari budaya, dan buat saya yang penasaran, mencoba brownies ini jadi salah satu highlight perjalanan.

Sore itu, setelah jalan-jalan seharian, aku mutusin untuk menghabiskan malam di salah satu bar legendaris di Amsterdam: Excalibur. Bar ini punya suasana yang asik dan penuh dengan jiwa bebas khas Amsterdam. Aku memesan beberapa bir dan menikmati malam yang semakin meriah. Di bar ini, aku ketemu banyak orang seru. Pertama, ada pelayan bar, seorang wanita tomboy yang energik dan lucu. Nggak cuma melayani dengan senyum, dia juga ikut nimbrung mengobrol dengan tamu-tamu. Dia memperkenalkanku kepada salah satu temannya dari London yang datang hanya untuk liburan. Obrolan kami ngalir begitu aja, penuh tawa dan cerita.

Nggak berhenti di situ, aku juga berkenalan dengan seorang mahasiswi yang sedang menempuh pendidikan master degree di Amsterdam. Dia cerita tentang pengalamannya tinggal di kota ini, betapa beragamnya orang-orang di sini dan bagaimana kota ini penuh inspirasi. Lalu, ada juga seorang wanita dari Polandia yang datang bersama keluarganya untuk liburan. Dia bercerita tentang perjalanan mereka keliling Eropa, dan betapa Amsterdam adalah salah satu kota favorit mereka.

Tapi yang paling berkesan mungkin adalah seorang pria dari Guatemala yang wajahnya mirip banget dengan Pablo Escobar! Kami bercanda soal kemiripannya itu sambil menikmati bir, dan dia cerita tentang kehidupannya di Guatemala. Pertemuan-pertemuan ini benar-benar membuat malam saya semakin seru, penuh dengan cerita-cerita unik dari berbagai belahan dunia.

Cerita ini langsung bikin pikiranku mengembara jauh. Sebagai calon koki yang sedang menempuh pendidikan disini, aku jadi kepikiran, gimana ya kalau kita bisa menghidupkan kembali makanan tradisional Indonesia dengan sentuhan ganja? Toh di Jerman, ganja udah legal, dan mungkin saja ini bagian dari tradisi kuliner kita yang sudah lama hilang.

Selama perjalanan ini, nggak cuma aku mendapat pengalaman baru, tapi juga inspirasi buat masa depan karirku di dunia kuliner. Mungkin aja, suatu hari nanti bisa mengombinasikan kearifan lokal dengan kreativitas modern. Amsterdam bener-bener membuka mata tentang banyak hal, dari sejarah hingga potensi yang mungkin belum terpikirkan sebelumnya.

Dan begitulah, perjalananku ke Amsterdam bukan sekadar wisata biasa. Ini jadi petualangan yang penuh dengan wawasan baru, pertemuan seru, dan mungkin jadi awal dari sesuatu yang lebih besar.

LSD.

Tinggalkan komentar